Oleh Fariz Alniezar
Dosen STAINU Jakarta

Saban Senin, jika tidak ada aral melintang, kondisi keungan stabil, persediaan kopi melipah, dan cicilan utang ke bank lancar, Saya akan menulis rutin di Omah Aksoro. Nama rubriknya 'Catatan Perut'.

Saya akan menulis apa saja, tentang apa saja dan dengan cara bagimana saja. Saya anggap menulis di 'Catatan Perut' adalah senam jari dan meditasi otak. Di luar itu saya juga meniatkan agar energi misuh saya tersalurkan dengan tepat. Pasalnya, anda tahu sendiri, kejadian apa yang tidak memaksa kita dengan seukarela untuk mengumpat dan misuh?

Menteri baru dilantik, wacana kebijakan dan check sound keputusannya ngawur ndak kepalang. Ada juga yang bukan WNI. Saya sadar sewaras-warasnya bahwa menghadapi kegulitaan, menyalakan lilin adalah lebih baik dibandingngkan mengutuk kegelapan.

Senin yang kuyup kali ini, saya mencoba mengulas wacana full day school dari Mendikbud yang fenomenal dan terkenal sejagat galaksi bima sakti itu.

Berikut petikannya:
Bersekolahlah min Thulu’il Fajri ila Ghurubis Syamsi

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya??
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Sitiran sajak di atas nampaknya muradif dengan keadaan kita hari ini. Dunia pendidikan kita tidak pernah tidak gaduh. Ada memang di mana saat-saat pendidikan memiliki suasana adem ayem, namun percayalah itu tidak pernah bertahan lama. Peroalannya sama persis itu itu saja, meminjam Mahbub Djunaedi, persis seperti kentut hansip yang tertahan. Mulek. Mbulet.

Einstein suatu kala pernah bilang bahwa definisi kedunguan yang hakiki adalah di hadapan persoalan yang itu-itu saja kita menghadapinya dengan cara begitu-begitu saja namun mengharapkan hasil yang berbeda, itulah kita. Itulah wajah pendidikan kita. Masalah tetap, penyelesaiannya tidak inovatif dan cenderung stagnan, namun kita berteriak setengah mampus “kok keadaan ndak berubah-berubah?”
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: