Oleh M Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Aku jatuh. Ya. Jatuh hati tepatnya. Pada gadis salafi. Penyembah kitab suci. Pengiman barang mati. Ya. Bukankah kitab suci itu kertas. Dan, kertas itu benda. Dan, benda itu barang mati. Kalian tahu mati atau kematian? Adalah tidak hidup, atau tidak bernyawa. Atau tidak seperti kita yang hidup. Aduhhh, kok jadi susah menjelaskan mati dan hidup itu. Seperti menjelaskan tuhan, hantu dan hutan. Repyooot.

Mati. Begitulah kehidupan yang tak dirayakan. Walau berjiwa dan berbadan, sesungguhnya ia mati. Tentu tidak sembarang mati. Melainkan kematian waktu. Saat jiwa yang penuh penderitaan menemukan ketentraman tapi menolaknya. Saat jiwanya disatukan dengan jiwa lain yang merindu, ia masih bertanya dan tak percaya. Saat keduanya saling memeluk dengan mesra, tetapi seperti orang asing yang terhibur tatkala melihat orang asing lain di tempat yang jauh. Saat hati yang dipersatukan melalui perantaraan duka cita tetapi tidak dimengerti. Saat mulut berkata kangen yang tak akan terpisahkan oleh semaraknya kebahagiaan dan kesedihan tetapi diratapi kedunguan.

Sesungguhnya, ia punya cinta yang dibasuh dengan air mata sehingga akan suci dan indah selamanya, tetapi sekali lagi hanya diketik dan diucapkan. Ia punya rindu yang dikirimkan tapi tak direalisasikan. Ia punya cemburu yang dirasakan tapi dionggokkan. Maka, sesungguhnya semua hanya basa-basi dan tipu-tipu saja.

Ia tahu bahwa setiap hati mendambakan hati yang lain. Hatinya buat hati kekasih yang dirindukan. Hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian. Hati yang kuat untuk menegasikan kepedihan sekaligus melupakan penderitaan takdir kehidupan.

Tapi, hatinya palsu. Jiwanya bisu. Nalarnya pilu. Tekadnya kosong. Semangatnya minus. Mimpi-mimpinya syorga akhirat. Bacaannya ilusi. Kasihnya tuhan yang tak beralamat.

Rupanya selama ini aku salah. Sebab ini soal Maria dan Rabiah Aladawiah. Bukan kisah biasa. Aku lupa. Dan, selalu lupa. Bahwa ia perempuan suci, sufi sejati. Yang cintanya hanya untuk Tuhan semata. Yang takutnya setengah mati. Takut pada bayang-bayang diri dan restu. Maka, pada Maria, kasih tak dibagi. Pada rabiah, sayang tak diberi. Bahkan syorgapun, keduanya tak cari. Perempuan suci itu tak berpayudara dan tak bervagina. Nafsunya hanya kalam ilahi. Tak tergoda tak terbeli. Semua sdh diselesaikan di masa remaja. Tak bersisa. Tak berasa.

Karena tak berasa, ia seperti lagu. Tentang kasih yang tak sampai. Yang ia nyanyikan saat menelponku. "Indah. Terasa indah. Bila kita terbuai dalam alunan cinta. Sedapat mungkin terciptakan rasa. Keinginan saling memiliki. Namun bila itu semua. Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta. Tak semudah seperti yang terbayang. Menyatukan perasaan kita. ‪#‎Tetaplah‬menjadi bintang di langit. Agar cinta kita akan abadi. Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini. Agar menjadi saksi cinta kita berdua. Berdua#

Sudah. Terlambat sudah. Kini semua harus berakhir. Mungkin inilah jalan yang terbaik. Dan kita mesti relakan kenyataan ini."

Kalian tahu? Syorga dan kitab suci bagiku makin asing. Bahkan kitab suci itu mirip batu hitam yang diciumi dan disembah orang-orang jahil itu. Jika mengutip tulisan Avianti Armand, maka membacanya adalah memasuki labirin. Ada ilusi dari sebuah jalan yang lempang dan lurus dengan sebuah pusat-akhir yang tertebak. Sementara dalam kenyataannya, labirin adalah lorong-lorong sempit. Kita hanya bisa maju atau mundur. Dinding-dinding masif di kanan kiri. Selalu berbelok dan menikung tak terduga.

Dalam labirin itu, fakta dan fiksi berkait, dunia berkelindan dengan kata-kata. Dan, kata-kata tersebut menyajikan semesta yang gumpil-tak utuh, tak sepenuhnya benar, dan menyembunyikan sesuatu yang kita belum tahu. Kitab suci, seperti juga labirin, bukanlah sebuah peta~proyeksi dua dimensi dari garis dan kurva yang saling bertaut. Peta, hanya sebuah abstraksi, sekumpulan tanda dan legenda yang tak sanggup menggantikan pengalaman. Sementara itu dalam kitab suci, seperti juga labirin, selalu ada misteri yang tidak menuntut untuk dipecahkan, melainkan dialami. Berkali-kali (dari novel Perempuan Yang Dihapus Namanya).

Memercayai syorga dalam kitab suci seperti melihat Jokowi: lebih banyak nipunya ketimbang kenyataannya. Pura-pura ribut kewarganegaraan ganda dan harga rokok. Padahal intine nyolong SDA dan mewarisi utang yang bengkak krn bengkok. Maka, ia dan Jokowi itu serupa walau tak sama.

Tentu. Manusia macam aku, tak paham dan tak tahu. Perlu semilyar tahun untuk memahami. Maka, maafkan aku yang dhaif ini. Maafkan jika aku akan melupa. Sbb pada akhirnya, aku msh manusia biasa. Yang butuh manusia. Terlebih syorgaku di dunia. Tuhanku bukan tuhan2 dalam kitab suci. Bkn ilusi dungu para nabi.(*)

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: