Demi satu iman dalam kemanusiaan. Kita bisa berbeda dalam kepercayaan pada tuhan atau tidak percaya sama sekali, tapi yakinlah, kita satu hati dalam kemanusiaan. Kita mengada karena berusaha untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Kita disebut manusia karena ada kemanusiaan di dalamnya. Manusia bisa mati, tetapi kemanusiaan akan tetap abadi. Manusia memang fana, namun kemanusiaan berlaku sepanjang masa. Ibadah yang ditujukan demi kemanusiaan merupakan keutamaan tertinggi dalam keberagamaan. Memberi nafas pada kehidupan dan merayakan alam semesta adalah tujuan dari keberadaan kita yang sementara.

Kedirian manusia terhubung dalam jaring-jaring alam semesta. Menjadi manusia juga berarti menjadi bagian dari alam raya. Manusia dan alam raya saling gulung-menggulung dan bergumul. Serpihan bintang menempel dalam pikiran kita, layaknya semesta yang maha luas dimampatkan ke dalam jiwa manusia. Meski kita kecil dan kerdil di hadapan hamparan semesta yang tak berbatas, kita menjadi tujuan dan makna terdalam adanya alam semesta. Jagad raya tidak mampu mengungkapkan diri dan berbicara tanpa keberadaan kita. Maka, setiap kali terjadi krisis kemanusiaan, hati semesta memanggil anak-anaknya, menanyakan pada mereka, siapakah yang bersedia memangku rintihan dunia.

Duhai, jiwa-jiwa yang mau meresapi derita, mendaging dalam nestapa. Tiupkanlah dalam setiap diri manusia dengan semangat berkorban demi sesama. Hidup demi menghidupi kehidupan. Keutamaan ini sangat dirindukan oleh roh semesta, karena memberi kekuatan untuk membangun kembali nasib umat manusia. Wahai alam yang bertaring dan bercakar merah, dunia makhluk yang tak mengenal hati dan perasaan. Jiwa yang gemar merayakan kematian. Mari kita bersatu dalam kemanusiaan, yang dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Abaikan semua perbedaan, meleburlah dalam persamaan. Ulurkan tanganmu secara perlahan, akan kuurapi kulitmu yang kasar dan kering itu dengan minyak pengorbanan. Aku ingin menyentuh hatimu yang terdalam, demi sebuah pencapaian, yaitu kemanusiaan.

Alam raya tenggelam dalam tafakkur, memandang sayu sambil menarik napas panjang tak teratur. Semangat zaman sedang gelisah, merenung dan memikirkan masa depan umat manusia yang terancam musnah oleh tindakan manusia itu sendiri. Kita sedang diracuni oleh insting membenci dan memusuhi, sebuah penyakit yang merongrong hati. Ideologi kematian bergentayangan, menebar maut dan kengerian. Kemanusiaan dalam tantangan dan ancaman besar, bukan oleh hewan pemangsa atau kesialan bencana, tapi oleh manusia itu sendiri yang kesurupan oleh ketuhanan dan kesucian. Kenapa itu bisa terjadi, bukankah kita semua adalah makhluk manusia yang sama? Apa tuhan membutuhkan sesajen dari darah dan nyawa manusia yang durhaka dan tidak mau percaya pada-Nya? Apa yang membuat manusia berpandangan bahwa nyawa dan darah bisa dikorbankan atas nama tuhan dan kesucian?

Ideologi kematian tidak mau bersyahadat dalam satu iman sebagai manusia, malah sebaliknya membagi diri dalam kotak-kotak keterasingan, kebencian dan perseteruan. Manusia merasa asing dengan nilai-nilai kemanusiaannya sendiri, tercerabut dari watak alamiahnya yang baik. Kita dihadapkan pada masalah untuk mengada sebagai manusia, makhluk yang terus menerus bertanya apakah kita layak disebut manusia. Oleh karena itu, kemanusiaan menggeliat dan kebudayaan menggugat, mengajukan tuntutan-tuntutan serius ke meja mahkamah sejarah. Ideologi yang merayakan kematian, mengaburkan kewarasan, memanipulasi kesadaran dan memandulkan akal-budi harus diseret dengan tegas ke ruang pengadilan kemanusiaan. Nalar sehat dan pengetahuan kritis siap menjadi penuntut universal di hadapan sang tergugat. Siapakah yang dimaksud? Ya, kita sedang mempertanyakan alasan mengada dari agama bersama para atribut-atribut yang menyertainya, dogma gelap, ritus simbolik, otoritas kenabian, tuhan yang lalim dan pewahyuan gaib yang delusif dan halusinatif. Semuanya yang disebuntukan tadi saling bahu membahu dengan ideologi kematian, di mana dalam kenyataan sejarah telah menghancurkan perasaan kemanusiaan, pengetahuan dan kebudayaan.

Dalil kami yang utama, tidak ada agama yang kebal dari kritik, sanggahan dan pertanyaan. Tidak ada hak istimewa untuk mendapatkan status pengecualian, sekalipun mengatasnamakan tuhan dan kesucian. Tidak ada satupun ciptaan yang selamat dari gerogotan rayap yang melapuki umur kehidupan. Apabila ada yang menyatakan dirinya abadi melampaui zaman, maka tugas pengetahuan dan akal-budi untuk mengajukan gugatan dan keraguan. Agama tidak akan dewasa apabila enggan membuka diri terhadap kritik atas dirinya.

Agama tidak akan mati oleh serbuan kritik, tapi dia akan menjadi timbunan sejarah yang dogmatis dan patologis apabila ia tidak mau membuka kritik dari pihak luar atau penganutnya sendiri. Di hadapan kemanusiaan dan pengetahuan, semua doktrin agama harus memperbarui dirinya secara terus menerus melalui proses yang dialektis. Melalui jalan itulah agama bisa menyegarkan dirinya kembali, mengganti sel-selnya yang sudah usang atau menghirup nafas baru dalam laju kebesaran zaman. Kesalahan tidak akan mengurangi kesucian sebuah agama, tapi justeru berbahaya apabila suatu agama memandang dirinya selalu benar dan lepas dari segala kelemahan. Agama adalah ciptaan yang bisa lapuk dirayapi tantangan zaman. Agamaku, agama kemanusiaan.


Yuk Miliki Buku Ahmad Fauzi dengan cara: Cara Pesan dan Membeli Buku Agama Skizofrenia, Tragedi Incest Adam dan Hawa & Nabi Kriminal dan Buku Kesurupan Tuhan.

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: