Oleh Syukron

"Jaman ngaji mbiyen, maknani "man" iku artine "utawi sopone wong". Tapi, ngaji saiki maknane "man" iku "wonge sopo..." tutur KH Maksum, salahsatu pengasuh PPTI Al Falah kepada Cak Nun.
Saya sempat tertawa dalam hati. Mengingat, pertanyaan atau pernyataan itu sempat ada dalam hati ketika melihat para kiai yang dulu disowani para pejabat maupun aktifis partai politik berubah menjadi ketika para kiai justru "sowan" ke pejabat atau aktifis partai politik, atau berbondong-bondong "mendatangi" rumah dinas bupati/walikota. Karena, menurut saya, justru mereka-merekalah yang harusnya sowan ke kiai.

Ada beberapa makna dalam kontek "man" yang terdiri dari huruf "mim" dan "nun". Dalam ilmu bahasa Arab, ada banyak hukum yang muncul karena kehadiran huruf “nun”. Nun Sukun, Nun Niswah, Nun Tatsniyah, Nun Jama’ dan nun-nun yang lain. Dalam Nun sukun dalam ilmu tajwid misalnya. Paling tidak ada 6 (enam) hukum yang muncul, yaitu: Izhar Halqi, Idghom Bighunnah, Idghom bila Gunnah, Izhar Wajib, Iqlab, dan Ikhfa’. Pelajaran tentang tajwid ini akan kita coba bahas di sini. Tetapi bukan tentang hukum secara detil, tapi hikmah yang mungkin bisa dipetik karena keberadaan huruf ”nun” tersebut.
Jika kita perhatikan dengan seksama, minimal ada satu hikmah yang mungkin dapat kita terapkan dalam kehidupan kita dari huruf “nun” tadi. Yaitu pelajaran tentang pergaulan dengan sesama manusia. Huruf “nun” sangat pintar bersahabat. Dengan huruf apa saja ia mampu berbaur. Tapi ia juga cerdas memposisikan diri sebagai mana baiknya.

Ia akan dibaca jelas (Izhar Halqi) jika bertemu dengan salah satu dari huruf Halqi, yaitu, Hamzah, ‘Ain, Ghain, Ha’, Kha’, dan Ha. Ia akan dibaca dengung dan dimasukkan jika bertemu dengan huruf Nun, Waw, Ya’, atau Mim pada kalimat yang berbeda (Idgam bigunnah), tapi dibaca jelas bila bertemu dengan huruf tersebut pada satu kalimat (Izhar Wajib). Ia tidak dibaca dengung jika bertemu dengan huruf Lam, atau Ra’ namun masih tetap dimasukkan sehingga kelihatan seperti tasydid pada huruf “La’” dan “Ra’”. Ia akan berubah bacaannya menjadi “Mim” jika bertemu dengan huruf “Ba’”. Sedangkan dibaca samar jika bertemu dengan huruf selain huruf-huruf tersebut.

Dari sini kita bisa ambil satu pelajaran menarik dari huruf “nun” tentang persahabatan untuk dapat bergaul bersama orang lain dengan baik. Kita tidak harus kaku sehingga dicap “ngga’ gaul” disebabkan pergaulan kita yang terbatas pada orang-orang yang mungkin kita anggap sesuai dengan “selera” kita.

Namun perlu diperhatikan, pergaulan ini bukan sembarang gaul yang menyebabkan kita menjadi keblinger. Ingat! Huruf nun, walaupun ia sering berubah-ubah sehingga kelihatan seperti “siluman” tapi Ia tetap saja huruf “Nun”. Ia tidak berubah jadi huruf Lam atau Ra’ walaupun sudah dimasukkan hukum bacaan idgham bigunnah. Walaupun kita mungkin bergaul dengan preman kita tidak serta merta menjadi preman, atau walaupun mungkin kita bergaul dengan orang yang tidak “seaqidah” dengan kita tetapi tidak membuat aqidah kita goyah. Kita harus berani mengatakan yang benar jika itu yang benar dan salah jika itu yang salah. Sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang suka mengekor dan ikut-ikutan.
Lha kalau huruf "mim"?

Huruf mim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan posisi kedekatan dengan Allah, bahkan sujud merupakan simbol dari wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian) kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam Sholat. Dari hadits qudsi Allah Swt berfirman : ” Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yang fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal-hal yang sunnah- 34 rokaat qobliyah dan bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137).
Wes ah, wallahu a'lam bish shawab.

Kenapa saya memakai wallahu a'lam bish shawab dalam akhir tulisan? Penulisan wallahu a'lam menunjukkan sikap tawadhu' (rendah hati) dan pengakuan bahwa kebenaran yang dituliskan itu relatif, nisbi, karena kebenaran mutlak hanya dari Allah SWT yang Maha Tahu. (Bukan bermaksud sombong, hanya ngasih tahu yang belum tahu saja.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thoriq

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: