Oleh Yudhie Haryono

Yudhieku sayang, setelah kau baca surat ini, aku mati. Sebab, aku bukan Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi. Tapi, ketahuilah, "umur itu seperti es batu, digunakan atau tidak akan tetap mencair. Begitu juga dengan umur, digunakan atau tidak akan tetap berkurang. Maka gunakanlah untuk berbahagia dengan orang-orang yang kau cintai dan yang membuat hidupmu bahagia." Kini karenanya, berjanjilah pada semesta bahwa kamu akan berbahagia dan menikmati kebahagiaan dengan orang yang kamu cintai dan mencintaimu.

Yudhieku kekasihku. Hendaknya engkau seperti nisan pada si mayit. Menjadi penanda yang tak rumit. Setia siang maupun malam dan di waktu terik maupun hujan. Ya. Setia. Dalam duka maupun bahagia. Maka, jika ingin lulus dalam bersetia, perhatikan tiga perkara; jika engkau tidak memberi manusia manfaat, janganlah engkau memberi mereka bahaya. Jika engkau tidak bisa membuat manusia tertawa, janganlah engkau membuat mereka sedih. Jika engkau tidak memuji manusia, janganlah engkau mencela mereka. Itu saja.

Haryo kakandaku. Setelah aku mati, kuharap engkau mengerti. Bahwa manusia indonesia itu mahluk jejadian. Lolosan. Dari kampus dan universitas keberuntungan dan fakultas nasib baik. Sehingga mereka tidak tau hilir neoliberal. Mereka tidak mengerti bahwa ia hantu yang tak terendus.

Kekuatannya luwar biyasa. Ialah rezim keuangan. Rezim ini lebih jahat dan mengerikan dari rezim militer dan rezim agama di manapun dan kapanpun. Mereka bisa menjadi negara ataupun swasta; perorangan ataupun gerombolan. Bentuknya bisa perbankan, asuransi, hutang piutang maupun permainan kurs. Apa kejahatannya? Mencekik manusia tanpa membunuh korbannya. Apa buktinya? Saat manusia taat bayar kena bunga, tidak bisa bayar kena sita, dilunasin kena pinalti. Persis buah simalakama; dimakan, ayah mati. Tak dimakan, ibu mati. Dibiarkan, anak-anak yang mati. Yah. Mati kok pilih-pilih.

Haryonoku pangeranku. Sekian ratus purnama sudah berlalu. Sekian malam telah pergi. Sekian embun yg jatuh telah binasa. Sekian senja pergi begitu saja. Sekian bulan dan tahun lenyap tanpa arti. Beginilah hidupku melewati perhitungan angka yg manusia sebut umur ataupun usia. Semua membuatku hanya takjub pada perhitungan nasib dan takdir. Tetapi, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana nafas ini berhenti. Dalam pelukan siapa perhitungan ini akan berhenti.

Saat berhenti itulah, cintai aku dengan cara yang sederhana; sebuah kecupan di kening; berjalan di bawah lampu pijar membiarkan angin menerpa wajahku; tatapan mata teduh; genggaman erat di sela-sela jemari; senyum meski tanpa kata; cinta yang tak harus dinyatakan dengan bunga bahkan tanpa suara. Kasihku, jika ada satu doa yang boleh kuminta di 20 hari lalu saat hari lahirku kemarin, aku ingin suatu hari tawaf mengelilingi kabah denganmu yang telah Allah halalkan untukku. Kalaulah tidak, kutunggu engkau di syorga. Sebab kini aku telah mati. Minum kopi sianida adukan Tuhan: di

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: