Tampak Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong bersama makam istri.
Bagi warga Desa Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Mbah Brojo Seti Singo Barong menjadi pahlawan penyebar agama Islam di desa tersebut. Bahkan dalam sejarah Desa Dukuhseti tak terlepas dari perjuangan Mbah Brojo Seti Singo Barong.

Cikal-bakal dan nama "Dukuhseti" diambil dari nama "Brojo Seti". Karena itulah, legenda dan sejarah Mbah Brojo Seti menjadi kajian menarik bagi warga setempat bahkan mahasiswa saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dukuhseti.

Perjuangan dan Jasa Mbah Brojo Seti 
Perjuangan Mbah Brojo Seti Singo Barong, dari info yang dihimpun Koranpati.com, memang simpang siur. Akan tetapi, secara legenda, Ngalimun SPdI Ketua Pengurus Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong, kepada Koranpati.com menandaskan bahwa sejarah Mbah Brojo Seti Singo Barong berawal dari sosok Brojo Seti saat nyantri dan berguru dengan KH. Ahmad Mutamakkin Kajen Pati, seorang waliyullah yang kondang yang dikenal warga Pantura selain sosok Saridin atau Syekh Jangkung.

Konon, kata Ngalimun, dulu setelah nyantri di Mbah Mutamakkin Kajen, Mbah Brojo Seti pulang ke asalnya dan menyebarkan agama Islam. Akan tetapi, ia mendapat tantangan seorang siluman bernama Ki Gede Tualang yang konon adalah siluman celeng dan bisa berubah menjadi ular dan batu besar di kali.

Saat itu, Ki Gede Tualang sering mengganggu warga, bahkan pernah memerkosa istri Mbah Brojo Seti yang bersama Wasilah Surgi. Karena nama Mbah Brojo Seti juga dikenal dengan sebutan "Mbah Surgi". Akan tetapi, kelakuan nakal Ki Gede Tualang diketahui oleh murid Mbah Brojo Seti bernama Mbah Anggur atau Syekh Hamim.

Syekh Hamim ini, menurut Ngalimun adalah murid Mbah Brojo Seti yang tugasnya menggembala atau "angon" ternak milik Mbah Brojo Seti. Nama "anggur" karena pekerjaan Mbah Anggur adalah "bocah nggur-ngguran" yang pekerjaannya mengaji dan menggembali ternak.


Lalu, belum sempat dilaporkan oleh Mbah Anggur ke Mbah Brojo, justru ia dibunuh oleh Ki Gede Tualang. Akan tetapi, karena ternak kerbau milik Mbah Brojo Seti itu sakti, si kerbau pun melapor ke Mbah Brojo bahwa Mbah Anggur dibunuh oleh Ki Gede Tualang. Kemudian, darah Mbah Anggur yang mengalir di sekitar sawah itu dinamakan "sawah sebleber" oleh warga setempat karena darahnya "mbleber".

Kemudian, Mbah Brojo Seti marah dan berubah menjadi singa besar dan mendatangi Ki Gede Tualang. Akan tetapi, Ki Gede Tualang berubah menjadi ular dan celeng besar dan kejar-kejaran di suatu desa terpencil di sebelah barat Desa Dukuhseti. Tiap kali dikejar oleh Mbah Brojo, Ki Gede Tualang pun dengan sigap menghilang. Dalam bahasa setempat, "njebol" sana, tiap kali dikejar "njebol" atau menghilang lagi sampai beberapa kali. Sampai saat ini, warga setempat menamakan dusun tersebut menjadi Dusun Jebolan yang secara administratif dibagi antara Desa Ngagel dan Desa Dukuhseti.

Lantaran kalah dan tidak bisa menangkap Ki Gede Tualang, akhirnya Mbah Brojo Seti lapor ke KH. Ahmad Mutamakkin Kajen dan diberi pecut atau "dhuk" dari aren. Setelah pulang, pecut itu disabetkan kepada Ki Gede Tualang dan akhirnya kalah dan dibawa ke hadapan KH. Ahmad Mutamakkin. Karena mogok di tengah jalan, tepatnya di Kali Guno Ngagel, dan berhenti pas di tengah-tengah kali, Mbah Brojo pun tidak bisa menyeret Ki Gede Tualang dan laporan ke KH. Ahmad Mutamakkin Kajen. Kemudian, Mbah Mutamakkin bilang bahwa tidak usah dibawa ke sini, dibiarkan saja untuk jembatan warga.

Konon, jembatan itu adalah Ki Gede Tualang yang berubah menjadi kayu. Akan tetapi kalau musim banjir atau hujan, jembatan itu berubah menjadi ular dan sering memakan korban. Dari informasi warga Ngagel, saat ini ada yang bilang bahwa jembatan itu sudah menghilang dan pindah di Jawa Timur.

Setelah musuhnya kalah, Mbah Brojo Seti Pun kembali berjuang menyebarkan ajaran Islam yang haulnya selalu diperingati tiap bulan Maulud.


Informasi lain yang disampaikan Mbah Amar Ma'ruf, guru ketoprak Ruslan pemilik Ketoprak Wahyu Budoyo Pati, mengatakan sebenarnya babad Desa Dukuhseti sudah menjadi salah satu lakon di dalam pentas ketoprak, salah satunya adalah tragedi mistis dengan Ki Gede Tualang.

Menurut Amar, Ki Gede Tualang itu siluman yang bisa berubah-ubah. Nama "tualang" itu diambil dari kata "watu malang" karena Ki Gede Tualang sering berubah menjadi batu besar yang menutupi sungai di dekat area persawahan tualang di sebelah barat Desa Dukuhseti. Nama sawah tualang itu juga diambil dari nama "Ki Gede Tualang" tersebut. Mbah Amar juga mengatakan bahwa Brojo Seti Singo Barong itu sosok wali Jawa yang kulitnya hitam, karena pekerjaannya bertani dan memiliki banyak ternak.

Sementara itu, pendapat lain disampaikan K. Muslim Assalamy, kiai yang mendirikan Pondok Pesantren di Dukuh Kedawung Desa Dukuhseti yang lokasinya tidak jauh dari makam Mbah Brojo Seti mengatakan bahwa menurut dia, sejarah babad tanah Dukuhseti tidak sebombastis dengan sejarah yang dipercaya oleh warga setempat.

Menurut dia kepada Koranpati.com, adanya perang darah dan mistis itu hanya kiasan yang dikarang oleh orang-orang tua zaman dulu untuk memudahkan pemahaman. Hal itu menurut dia dilakukan karena sulitnya mencari informasi valid atas keluarga, sejarah dan asal-usul siapa sebenarnya sosok Brojo Seti Singo Barong atau yang sering disebut Mbah Surgi.

Terlepas dari itu semua, jasa Brojo Seti terhadap penyebaran Islam di Dukuhseti Pati sangat besar. Bahkan, di Dukuhseti saat ini banyak masjid dan musholla serta pondok pesantren berdiri. Tak hanya itu, banyak pula sekolah Islam mulai dari RA, MI, MTs dan MA serta SMK juga banyak berdiri di Dukuhseti. Tokoh nasional seperti Marwan Djafar mantan Menteri Desa juga berasal dari Dukuhseti Pati.


Warga saat ziarah di Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong
Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong
Jika Anda ingin ziarah dan berwisata religi di Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong, Anda cukup datang di Dukuh Spande, Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Dari Kota Pati, naiklah bus jurusan ke Tayu. Lalu naik angkutan jurusan Tayu-Puncel arah Dukuhseti dan bilang ke sopir berhenti di Spande atau Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong.

Saat ini, kepengurusan Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong diketuai oleh Ngalimun yang juga Kaur Kesra Desa Dukuhseti, Pati. Sedangkan juru kunci Makam Mbah Brojo Seti Singo Barong saat ini adalah Mbah Moh, yang sebelumnya dipegang oleh Mbah Mastur atau Mbah Tur dan sebelumnya lagi adalah Mbah Modin Badawi.

Peringatan Haul Mbah Brojo Seti 
Tiap bulan Maulud atau Mulud, Mbah Brojo Seti Singo Barong, haulnya diperingati oleh warga setempat. Agenda seperti tahlil umum, tahlil fatayat, burdahan, manaqiban, tahtimul quran binnadhor dan bilghoib serta pengajian umum dan karnaval akbar juga diperingati oleh warga setempat. (Red-KP99/Foto: HI-koranpati.com).

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

2 comments:

  1. min mau tanya, tempat makamnya Ki brojo, ini dari mesjid agung demak jauh tidak? atau makamnya ini masuk daerah demak juga?

    BalasHapus
  2. min mau tanya, tempat makamnya Ki brojo, ini dari mesjid agung demak jauh tidak? atau makamnya ini masuk daerah demak juga?

    BalasHapus