Oleh M Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Engkau menyempurnakan hidupku dengan menikahinya. Maka, gerhana dan gerimis menyatu. Di rumah-rumah si dungu.

Tanganku saksinya. Terkadangpun purnama penuh. Jingga tak bisa ternoda. Tanpa duka. Tanpa lara. Berarak telanjang terlukis awan. Mataku binar. Bibirku kelu.

Setengah mati aku. Setengah hidup diriku. Tergila gila kepadanya. Terkagum-kagum dan terpesona pada auranya. Akhlaknya begitu mulia. Wanita yang paling indah. Baik nalar maupun bokongnya. Wanita paling perkasa. Baik cinta maupun semangatnya. Yang pernah aku temui di dunia fana. Yang pernah ada bermilyar waktu lalu. Jauh sebelum dunia ada.

Cemburu
Kegilaan bukan hanya milikku. Setan-setan mana tak cemburu. Bidadari-bidadari mana tak iri. Terlebih bagiku, cinta itu nalar radikal, ia akan lahirkan kerja raksasa yang kekal. Bagiku, rindu itu akal liberal, ia akan lahirkan kerja cerdas yang berakal. Bagiku, kasih itu emosi kwartal, ia akan lahirkan perjuangan yang bilateral. Maka, cintaku, rinduku, emosiku padanya. Sayangnya kemarin ia bilang tak suka prosa dan puisiku.

Hantu
Kini. Setiap tarikan nafasku. Dalam zikir doaku. Dalam lafal puisi dan prosaku. Dalam bait-bait gurindamku. Dalam kitab kejadian ataupun quranku. Aku takkan peduli. Aku takkan lari. Apapun pasti akan kuhadapi. Apapun pasti kurelakan. Kamu harus menjadi milikku. Kamu harus menemani hidupku. Seperti rembulan menemani malam, menyinari dunia ini. Jenius mana yang tak mampus oleh pesonamu. Manusia mana yang tak mati saat di dunia.

Hutan
Tuhan menggigau. Tak ada lagi wanita sejati. Tak ada lagi tuan putri yang melelapkan. Yang baik seperti kamu. Yang istimewa tanpa istana. Yang mau mencintai aku. Yang kentutnya wangi. Yang mengangeniku. Yang berkorban untukku. Apa adanya. Tanpa gurau dan kelucuan. Tetapi, gigauan itu tinggal kenangan. Ilusi kaum murtad yang iri. Sebab kau selalu ada. Hadir dan memijat lelahku. Lewat tangan mungil dan dekil.

Keentahan
Dalam novel sang nabi. Kehidupan itu guyon saja. Diceritakan getirnya peradaban. Sambil nyanyi dan berdansa. Kuajukan tanya. Maukah engkau. Sehidup semati. Seiya sekata. Di dalam suka dan duka. Di waktu susah atau bahagia. Hingga nafasku berhenti. Sampai ajalku tiba. Selamat selamanya. Taukah kau. Sungguh mati aku cinta. Sungguh-sungguh rindu. Kangen yang tiada tara. Cinta yang begitu hebat rasanya. Begitu dalam maknanya.

Keyakinan
Kasih. Kini. Sepenuh hati sepenuh jiwa. Sehasrat nalar sehasrat nafsu. Akan kurelakan seluruh jiwaku. Juga tubuh dan nalarku. Hidup dan matiku hanya untukmu. Kamu saja. Iya. Kamu. Masak yang lainnya. Gak menarik broh. Sama sekali. Sungguh-sungguh. Jangan tertawa. Bila. Tak sudi. Tak mau. Sungguh mati aku cinta. Sungguh rindu dirasa. Berat dan berkwalitas. Engkau yang di syorga.

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: