Oleh Ahmad Fauzi
Penulis buku Agama Skizofrenia, Kegilaan, Wahyu dan Kenabian

Inilah yang sedikit membantu menjelaskan kenapa sebuah kitab suci menghasilkan multi interpretasi yang pada gilirannya muncul banyak mazhab, mulai dari konservatif atau radikal, moderat, liberal dan sebagainya.

Contohnya adalah Al Quran. Kenapa dari satu kitab ini bisa melahirkan banyak varian seperti Wahabi yang radikal, Islam Moderat dan kelompok Islam Liberal yang mendekati murtad?

Satu teks yang telah mati pengarangnya, ketika menghadapi pembaca akan membuka diri dan terus mereproduksi makna berdasarkan kategori ruang dan waktu pembacanya. Gadamer menyingkirkan makna objektif dalam seni tafsir, karena begitu kuatnya asumsi yang dibawa oleh seorang pembaca teks.

Dalam interpretasi kitab suci, tidak ada makna objektif, maka tidak mungkin akan terjadi dialog dan diskusi secara konsensus rasional dan komunikatif sesuai yang dibayangkan Habermas.

Satu ayat yang bersifat agresif dapat melahirkan seorang teroris, tapi juga tidak dapat memengaruhi kaum moderat yang cinta perdamaian dan kaum liberal yang hampir menafikan ayat tersebut.

Seorang pembaca teks sering lebih dahulu memasuki teks yang dibacanya sesuai dengan asumsi dan a priori nya sendiri. Maka, meski ada ayat ayat yang mengundang kekerasan tidak akan dapat merasuki alam pikiran kaum moderat yang ramah dan peaceful. Ketika asumsi pembaca teks lebih kuat, maka kitab suci hanya menegaskan saja apabila sesuai dengan asumsi tersebut, dan ayat ayatnya akan terabaikan bila asumsi tidak sesuai dengan kata kata dari ayat tersebut. Pembaca teks yang menentukan makna ayat yang dibacanya.

Teks itu benda mati, pengarangnya juga sudah tidak bernyawa lagi. Yang ada kita, pembacanya yang membawa seribu lebih asumsi.

Membaca kitab suci sebenarnya hanyalah membuka lembaran lembaran cermin yang memperlihatkan wajah kita sendiri. (*).
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: