suasana training jurnalistik di MA Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati
Kembang, Koranpati.com – Puluhan pelajar Madrasah Aliyah (MA) Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati, diharuskan mengerti dan mampu menerapkan ilmu jurnalistik serta literasi. Hal itu dijelaskan Hamidulloh Ibda, dosen STAINU Temanggung dalam pelatihan jurnalistik di gedung MA Madarijul Huda, kemarin, yang diikuti puluhan pelajar.

Ummi Fadhilatin, guru pembimbing, menegarkan bahwa kegiatan tersebut dalam rangka follow up sebelum menerbitkan majalah Tabligh yang diproduksi MA Madarijul Huda Kembang. “Ini merupakan langkah follow up agar adik-adik bisa mengerti lebih dalam tentang kerjurnalistikan,” beber dia

Sementara itu, saat menyampaikan materi, Hamidulloh Ibda menandaskan sejumlah materi. Mulai pengenalan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sebagai pengganti Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), manajemen redaksi, rubrikasi, sampai dengan pemetaan berita, informasi, isu, berita hoax, fake dan lainnya.

“Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan atau EYD itu sekarang tidak dipakai lagi, karena sudah diganti dengan Ejaan Bahasa Indonesia atau EBI sejak 201ang Disempurnakan atau EYD itu sekarang tidak dipakai lagi, karena sudah diganti dengan Ejaan Bahasa Indonesia atau EBI sejak 2015 kemarin,” beber Ibda yang juga alumnus MA Madarijul Huda tersebut.

Pria kelahiran Pati tersebut juga menuturkan, bahwa perkembangan dunia jurnalistik dan media massa yang begitu pesat, mengharuskan para pelajar harus melek literasi. “Literasi itu tidak hanya urusan kemampuan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca, melainkan juga berupa ilmu untuk mendapatkan pengetahuan serta kemampuan menyeleksi informasi,” kata dia

Oleh karena itu, lanjut dia, pelajar yang budayanya viral dan termasuk generasi milenial harus melek literasi. “Kalau sudah melek literasi, maka kalau ada berita hoax seperti apapun tidak akan mudah terbodohi,” tegas dia.

Sementara itu, untuk menghasilkan majalah yang baik, haruslah memegang teguh kaidah jurnalistik dan memiliki karakter. “Kalau yang mau bagus ya harus punya karakter, menjaga konten dan jelas segmentasinya. Tapi karena ini di bawah naungan sekolah, cobalah sekali-kali ganti tema yang tidak monoton pendidikan saja, bisa sejarah desa, profil kiai, dan berbagai legenda menarik dan itu mengenalkan potensi lokal,” lanjut mantan Pemimpin Umum Majalah Tuntas tersebut.

Di akhir kegiatan, ia juga mengajak para pelajar tersebut untuk praktik menulis feature sebagai genre yang dikembangkan oleh berbagai majalah. “Kalau sudah terbiasa menulis feature, saya yakin Anda akan mudah menulis berita ringan dan artikel,” urainya. (Red-KP88) .
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: