Cerita ini adalah fiktif.

Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan alur cerita, itu hanyalah kebetulan belaka)
Pelita kecil yang tercantel pada tiang cangkruk kayu lapuk tinggal memiliki tetes terakhir minyaknya. Tetes minyak itu melembabkan sumbu kain, merembes naik menembus selongsong logam, dan sampailah ke batas nyala. Setiap molekul minyak tersambar panas, lalu melepas kandungannya dan menciptakan bunga api. Api itu meliuk gelisah. Cahanyanya seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Kelap-kelip makin mengecil, kehilangan runcingnya sedikit demi sedikit. Nyala itu tinggal sebesar gabah, dan mati.

Dari tempatku berbaring terdengar sayup-sayup tayup yang sedang berlangsung di sumur bopong. Sumur yang dikeramatkan oleh penduduk Desa Gaji—juga Dusun Karangbinangun. Setiap setahun sekali, kepala desa akan menanggap tayup dan sedekah bumi. Paling tidak seekor sapi untuk disembelih setiap tahunnya. Acara tolak balak dan juga bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas rakmat serta nikmatnya yang telah diberikan.

Ketika bulan mulai turun di belahan langit barat aku memejamkan mata. Dinginnya udara dimalam kemarau, membuat tubuhku meringkuk bulat. Sarung kutarik hingga sedemikian rupa. Lumayan hangat. Di sana, di sumur bopong Nyi Wantikah seorang sindir masih menggending Pahlawan Ranggalawe. Suaranya melengking. Merdu bercampur angin yang mendesau. Membuat siapa saja berjoget ketika mendengarnya.

Pagi-pagi halaman dan tanah pekarangan di Dusun Karangbinagun berhias mozaik dedaunan yang jatuh semalam. Daun nangka dengan warna kuning tua kemerahan, menghiasi halaman langgar Nurul Jadid. Daun bambu kering cokelat dan kuning tua berserakan di atas atap, halaman, bahkan masuk ke dalam rumah melalui celah-celah genteng. Di bagian-bagian yang tidak terkenana
sinar matahari lumut dan beberapa jenis rumput masih hidup memberi corak hijau. Alam mulai hidup. Dusun Karangbinangun menyambut hari yang baru.
Adalah keajaiban hati yang mampu menyimpan perasaan yang demikian sengsara. Bila malam hari hati Mak Birah masih dicekam rasa bersalah, maka pada pagi hari segala kegalauan rasa sudah mengendap seperti ampas kopi yang tak pernah terteguk. Barangkali Mak Birah tidak tahu pasti apa yang harus ia lakukan. Bersedih berkepanjangan dan mengumpat diri sendiri juga tidak akan mengembalikan anak gadisnya.
“Sudahlah, yu!” emakku mencoba menghibur.
“Semua ini salahku, Kar.”

“Bukan salahmu, yu. Salah semua orang.”
Mak Birah diam sejenak. Kedua matanya yang kini berlinang air mata bergerak-gerak.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Kar? Aku telah membunuh anakku sendiri.”
“Semua itu sudah ada yang atur, yu. Hidup itukan pakem; sedangkan manungso hanya lakon. Sedangkan dalanglah yang mengatur semuanya.”

Mak Birah mencoba memahami apa yang terucap dari mulut Emak.
Aku yang sendari tadi duduk di samping Emak tak kuasa untuk terus berdiam diri. Ya, aku keluar waku itu. Menuju tempat Juliati biasa bermain. Di dekatan brosotan pohon bambu. Disini ia sering bermain masak-masak, menjadi sindir, dan kadang juga bermain perang-perangan. Juliati seorang gadis belia yang selalu mempertanyakan kepadaku konsep keperempuanan yang sudah lama ia yakini kebenarannya. Bahwa keperempuanan tidak selalu harus menuruti apa kehendak lelaki. Keperempuanan itu seharusnya sebagai pelengkap kelelakian. Bukan budak. Itu yang utama. Unsur maskulin dan feminim dalam tubuh manusia itu saling melengkapi satu sama lain. Tapi tidak yang Juliati lihat. Lelaki adalah raja dan perempuan adalah kaula. Lelaki adalah bendoro dan perempuan adalah budanya.

Aku bergeming, apakah selamanya Dusun Karangbinangun akan seperti ini?
NB: penggalan naskah novel "Cangkruk Dusun Karangbinangun (sebuah novel melawan patriarki)


Oleh Jaswanto
Penulis Cerpen dan Novel Munajat Hati (Formaci, 2017)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: