Ilustrasi kegiatan tarekah. (Foto: TQNNews).
Oleh Munajin, S.Pd., M.Pd.I
Sekretaris Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Pati

Di Indonesia, Golkar dan para partai politik juga sangat sadar akan potensi tarekat sebagai "gudang suara". Potensi itu telah menjadi pokok perhatian luas ketika kiai Musta’in Romli, tokoh tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, menyatakan dukungannya terhadap Golkar pada awal dasawarsa 1970an.

Pernyataan ini menimbulkan reaksi keras dari kiai - kiai lainnya., yang menganggapnya sebagai pengkhianatan NU (yang waktu itu belum kembali ke khiththah). Pesantren Tebuireng memelopori usaha "penggembosan" pengaruh kiai Musta’in. Sebagai hasil usaha ini, sebagian besar khalifah dan badalnya pindah ikrar janji kepada Kiai Adlan Ali, sehingga pada pemilu 1977 dan 1982 gudang suara besar itu dapat diserahkan kepada Kakbah ketimbang pohon Beringin.

Kiai Musta’in bukan guru tarekat pertama yang ikut dalam permainan politik di Indonesia. Pada awal masa kemerdekaan, Syaikh Haji Jalaluddin Bukittinggi mendirikan Partai Politik Tharikat Indonesia (PPTI). Guru Naqsyabandiyah ini sebelumnya adalah anggota Perti, tetapi meninggalkan partai itu karena suatu konflik dengan Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli.

Dalam pemilu 1955 PPTI menang 35.0000 suara di Sumatera Tengah (2.2 %) dan 27. 000 suara di Sumatera Utara (1.3 %). Selama dasawarsa berikut, PPTI berkembang terus dan mendirikan perwakilan di berbagai provinsi lainnya. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Syaikh Jalaluddin menjadi pendukung presiden Sukarno yang sangat setia. Kelak, untuk mengikuti tuntutan keadaan, partainya diubah menjadi ormas (1961), dan kepanjangan dari PPTI diubah menjadi Persatuan Pembela Tharikat Islam.

Pada permulaan Orde Baru, PPTI masuk Golkar, dan pada tahun 1971 menganjurkan semua anggota dan simpatisannya untuk menusuk tanda gambar Beringin. Semenjak itu PPTI merupakan "onderbow" nya Golkar untuk tarekat. Syaikh Haji Jalaluddin sendiri meninggal dunia pada tahun 1976, organisasinya (yang pada 1975 telah pecah menjadi dua, "Pembela" dan "Pembina" Tarekat) tetap berjalan, tetapi tidak lagi mempunyai pemimpin kharismatik sebanding Haji Jalaluddin. PPTI sekarang merupakan organisasi Golkar untuk tarekat daripada organisasi tarekat yang mendukung Golkar. (Puncel, 8 Maret 2018)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: