Kondisi pembangunan gorong-gorong di sepanjang Jalan Alasdowo, Dukuhseti, Pati. (foto: kp).
Dukuhseti, KORANPATI.com - Aksi teror tidak sekadar berupa bom atau ancaman pembunuhan. Akan tetapi, teror juga bisa dalam bentuk mengancam keselamatan pelaksanaan proses pembangunan pemerintah. Salah satunya yang terjadi di desa-desa khususnya di Kabupaten Pati.

Sebagaimana yang dialami oleh Kholiq, pelaksana proyek pembangunan gorong-gorong jalan di Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Pihaknya, terpaksa akan menghentikan pelaksanaan proyek. Sejumlah pekerja merasa terancam keselamtannya setelah sekelompok pemuda mengancam pelaksana proyek, dan kemudian meminta sejumlah uang.

Hal ini tentu saja berdampak pada ketakutan pekerja lapangan, karena sejauh ini belum ada jaminan keselamatan dari pihak terkait. Oleh karena itulah, sebagai pelaksana proyek, Kholiq akan segera melaporkan pada aparat penegak hukum, sehingga mendapatkan jaminan keamanan.

Target teror pada proyek pemerintah ini tentu saja diharapkan agar proyek pemerintah menjadi terganggu sehingga negara menjadi kacau. Lokasi proyek yang berada di samping Pasar Desa Alasdowo, menjadikan terganggunya operasional pasar apabila tidak dapat segera menyelesaikan pengerjaan proyek.

Dari data yang digali di lapangan, Acung, si pemeras dari pengakuan warga Alasdowo, ia merupaka residivis. “Acung ini setahu saya residivis. Ia preman kawakan yang menghantui warga,” kata Muhammad, warga Alasdowo kepada Koranpati.com, Ahad malam (13/5/2018).

Dijelaskannya bahwa kejadian seperti inilah yang sering tak tertangani oleh aparat di tingkat lokal. “Penyebabnya ya karena aparat keamanan lokal sering abaikan indikasi-indikasi awal dari terorisme, sperti misalnya premanisme,” lanjut dia.

Pihaknya berharap, penegak hukum segera menuntaskan masalah ini agar proyek berjalan lancar demi kepentingan umat.
Surat pelaporan yang dibuat Kholiq Priyadi

“Proyek itu penting untuk mengatasi genangan banjir di Pasar Alasdowo. Makanya, harus segera diselesaikan sebelum Ramadhan, karena pasar akan ramai saat Ramadhan,” ujar dia.

Padahal, kata Muhammad,  premanisme di Dukuhseti beberapa tahun sudah mereda, tiba-tiba muncul kembali. “Jangan sampai ini meneror warga Alasdowo dan Dukuhseti pada umumnya,” kata dia.

Hal ini menjadikan warga Dukuhseti berharap aparat kepolisian segera menindak tegas gangguan kepada publik ini. “Ya karena mengganggu proyek publik sama dengan tindakan teroris, karena menciptakan keresahan dan ketidakpastian,” pungkas dia.

Dari data yang diperoleh Koranpati.com sampai Ahad (13/5/2018), ia sudah melayangkan surat pelaporan itu kepada pihak berwajib. Sampai berita ini ditulis, pihaknya belum mendapat kepastian dan berharap aksi teror yang menimpa dirinya segera tuntas demi kepentingan warga Alasdowo.(Kp33/hms).
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: