Oleh Husna Nashihin
Dosen STAINU Temanggung
Indonesia terkenal dengan budaya menghormati orang lain, apalagi orang yang lebih tua atau “dituakan”. Masyarakat Jawa selalu menyapa orang lain ketika bertemu, meskipun kenal atau tidak kenal, bahkan meskipun sebelumnya belum pernah bertemu. Namun sangat disayangkan, saat ini budaya ini semakin luntur dan tergerus habis. Untuk itu, pengkajian mengenai budaya menghormati orang lain menjadi sangat urgen dilakukan.

Realitas ini secara gamblang terpapar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Saat ini, tidak hanya kalangan masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan yang dahulu terkenal dengan ciri saling menyapa atau sumeh, saat ini sudah ikut tergerus arus globalisasi dan modernisasi.

Gampangnya saja, hampir disetiap tempat saat ini orang lebih suka memperhatikan gadget daripada memperhatikan orang lain yang ada disekitarnya, seperti mengobrol atau sekedar say hello misalnya.

Budaya merupakan alat praktis guna menanamkan karakter, termasuk juga karakter saling menyapa atau sumeh. “Nyuwun sewu” merupakan satu budaya jawa yang secara “tutur” atau perkataan dan secara “praksis” atau perbuatan masih dilestarikan sampai sekarang. Bagaimana tidak, secara “tutur” perkataan dan “praksis” gerakan badan, bisa dipastikan masyarakat Jawa masih melestarikan budaya ini di segala lini kehidupannya.


Istilah “nyuwun sewu” sudah bermetamorfose menjadi local wisdom. Hal ini tercermin dalam perwujudan istilah ini dalam semua aktifitas masyarakat Jawa, apalagi ditambah dengan gerakan tangan kedepan dan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada sesama.
 
Kearifan seperti ini memang sudah ada sejak zaman nenek moyang beratus-ratus tahun yang lalu sebelum Indonesia merdeka. Bayangkan saja, bagaimana tidak hebat setelah sekian ratus tahun, budaya ini masih tetap eksis dan lestari pada masyarakat Jawa, meskipun memang harus disadari tantangan arus golbalisasi dan modernisasi tetap masih menghantui. Lantas ebenarnya, apa yang menjadikan masyarakat Jawa masih eksis melestarikan ini?

Kata “nyuwun” memiliki arti meminta, sedangkan kata “sewu” memiliki arti seribu. Istilah “nyuwun sewu” tidak akan bermakna apa-apa, ketika tidak menggunakan makna filosofis didalamnya. Secara filosofis, “nyuwun sewu” bermakna bersedia menerima orang lain dalm penghormatan tanpa memperdulikan suku, ras, dan agama.
 
Masyarakat Jawa bisa dipastikan akan selalu menggunakan kata “nyuwun sewu” sebelum memulai sebuah perkataan dengan berbahasa Jawa, bahkan meskipun juga akan berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dipandang sebagai sebuah perwujudan kepribadian yang baik.

Jauh lebih dalam, ternyata secara praksis “nyuwun sewu” juga diwujudkan dengan sikap menggerakkan tangan kedepan dan membungkukkan badan ketika akan melintas didepan orang lain, apalagi didepan orang yang lebih tua. Praksis ini juga terlihat dalam sikap ketika masyarakat Jawa ingin mempersilahkan orang lain dalam melakukan sesuatu. Bersamaan dengan mengucapkan “nyuwun sewu”, masyarakat Jawa juga menggerakkan tangannya kedepan dengan jempol mengacung sebagai simbol penghormatan disertai dengan sikap membungkukkan badan.

Jika demikian yang terjadi, maka sesungguhnya pembiasaan karakter pada masyarakat Jawa sebenarnya sudah ada dan dimulai sejak dari dulu. Hanya saja, karakter dalam bahasa nenek moyang dahulu dibahasakan lebih mudah dan implementatif, sehingga pembiasaan karakter diwujudkan dalam pembiasaan berbasis budaya, seperti budaya “nyuwun sewu”.

Pelestarian budaya ini bisa dilakukan dengan mengenalkan generasi muda mengenai pentingnya budaya “nyuwun sewu”. Basis pelestarian budaya ini ada pada keluarga dan masyarakat sebagai pelaku budaya itu sendiri.
 
Tidak kalah penting, masyarakat sendiri saat ini harus menghilangkan stigma sosial bahwa melestarikan budaya lama bukanlah perbuatan kuno yang tidak up to date.

Misalnya saja, menanamkan stigma positif bahwa budaya bertegur sapa atau sekedar menanyakan kabar, nama, alamat, atau keperluan orang lain bukanlah perbuatan “kepo” atau sok ingin tahu yang saat ini telah mengerus habis budaya saling sapa masyarakat Jawa.
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: