Ilustrasi UNBK. foto: KBR

Oleh Shelly Fitri Afifah
Peneliti Islamic Studies pada Prodi PAI STAINU Temanggung
Kemendikbud melalui pusat penilaian Pendidikan (Puspendik) telah memberikan sanksi tegas kepada peserta dan pengawas dalam kasus kebocoran soal ujian nasional berbasis computer (UNBK) jenjang SMA untuk mata pelajaran matematika.

Dalam keputusan Puspendik yang diumumkan secara terbuka melalui website Kemendikbud, diputuskan terjadi pelanggaran dibeberapa sekolah penyelenggara UNBK. Dimana siswa dibebaskan membawa handphone atau kamera. Kemudian peserta memfoto dan mengedarkan soalnya lewat group komunitas atau medsos.

Atas tindakan tersebut, Puspitek memberikan sanksi tegas berupa pembatalan hasil UNBK peserta. Sedangkan untuk pengawas tidak boleh lagi mengawas selama pelaksanaan UNBK.

Sayangnya sanksi ini menurut ketua umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahin, terlalu ringan. Sanksi tersebut tidak akan menimbulkan efek jera bagi peserta didik maupun pengawas.
 “Salah satu masalah Pendidikan kita karena hukuman yang tidak mendidik. Kalau pengawas yang lain hukumannya hanya itu, bisa jadi malah senang dia, bisa bebas tugas. Buat siapapun, itu jelas terlalu ringan, tidak ada juga pengaruhnya buat kelulusan”. Beber Ramli lewat pesan elektroniknya, Kamis (4/4).

Seharusnya kata Ramli, siswa yang jadi pelaku dianulir kelulusannya dari sekolah atau diproses secara hukum. Sedangkan hukuman pengawas, harusnya lebih berat. Misalnya, penurunan pangkat atau penundaan kenaikan pangkat dalam masa terhenti. Ini karena kelalaian atau bisa jadi kesengajaan.

Wajar, jika Indonesia tidak menjadi negara maju dan hanya berkembang, masalah ini disebabkan oleh beberapa faktor dan salah satunya pendidikan, banyaknya oknum-oknum yang berpengaruh dalam bidang pendidikan tetapi menyalahgunakannya, sehingga pendidikan di Indonesia tidak berjalan sesuai prosedur dan tidak terwujudnya cita-cita Negara Indonesia.

Kesadaran dalam memajukan negara harus ditanamkan dalam jati diri setiap individu yang ada di suatu negara, dengan adanya sifat tadi apapun bentuk negara dan nama negaranya, semua bidang yang ada di negara tersebut pasti akan berjalan dengan sendirinya dan sesuai prosedur yang sepakati, termasuk bidang pendidikan yang dapat mencetak kader-kader penerus bangsa, mewujudkan cita-cita bangsa.

Solusi Membangun Pelanggaran UN
UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) adalah UN dengan menggunakan computer yang dilengkapi perangkat lunak (Software) yang khusus dikembangkan untuk Ujian Nasional dengan tingkat kesulitan yang sama dengan UN tertulis. Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi mengatakan bahwa penyelenggaraan UNBK terbukti efektif meningkatkan indeks kejujuran para siswa saat ujian. Dengan UNBK, tingkat kecurangan diantara siswa kini menjadi berkurang.

Dalam praktiknya tidak semua peserta UNBK mengerjakan UN dengan jujur dan malah menghalalkan segala cara untuk menjawab soal dengan benar. Bahkan suasana ruang menjadi gaduh karena peserta saling bertanya, mencocokan soal yang sama dan bahkan saling bertukar jawaban. Maka dari itu, perlu adanya evaluasi dan tindakan tegas dari Kemendikbud.

Dari uraian diatas, dijelaskan akhir-akhir ini terdapat banyak pelanggaran terhadap keberlangsungan saat UNBK. Pelanggaran berupa siswa peserta UNBK dibebaskan membawa handphone, dan banyak ditemukanya pengawas yang membawa dan mengoperasikan handphone di dalam ruang ujian. Agar kasus tersebut tidak berkelanjutan,  perlu adanya tingkat keprofesionalan seseorang didalam lembaga tersebut, supaya kedepannya tidak terjadi lagi.

Pertama, sebagai Kementerian Pendidikan dalam sebuah kegiatan atau pelaksanaan pasti mempunyai cara tentang bagaimana menanggulangi permasalahan yang ada, setiap diselenggarakannya UNBK perlu diatasi secara bertahap dengan tetap. Memperhatikan jenis gangguan yang ada dan siapa pelakunya, apakah dilakukan individu atau kelompok. Langkah tersebut mulai dari tahap pencegahan sampai pada tahapan penyembuhan.

Kedua, pada tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya UN bukan menjadi tolak ukur kelulusan siswa, sehingga siswa peserta UN tidak terlalu dipikirkan. Selain itu pihak pengawas ujian pun tidak peduli akan terselenggaranya UNBK, terbukti dari sikap pengawas yang tidak sesuai dengan tugas dan fungsi yang semestinya. Dalam hal ini perlu adanya fungsi sebagai tim penyelenggara kegiatan tersebut.

Ketiga, Guru merupakan tokoh yang kita anut dan kita tiru. Jika guru tersebut bersikap atau berperilaku tidak baik, maka siswa didik pun mengikutinya. Semestinya guru yang bertugas menjadi tim pengawas menjalankan apa tugas dan mandatnya dengan baik agar terselenggara UNBK yang bersih dan kondusif.

Keempat, tanamkan sifat kejujuran dan tanggung jawab pada siswa sebelum melaksanakan ujian tersebut, misalnya adanya motivasi yang medatangkan tokoh dari luar sekolah, ataupun dari guru di sekolah sendiri, datangkan orang tua siswa kelas 3 dan adakan acara yang merekatkan hubungan anak dengan orang tua, dsb. Maka ketika anak itu ujian, mental mereka sudah lebih baik dan mampu melaksanakan ujian dengan semestinya (sesuai prosedur yang berlaku).


Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: