Ilustrasi Youtube

Oleh Hamidulloh Ibda
Lahir di Pati, kini menjadi pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah

Pati bukanlah kota karaoke dan perjudian, tapi sebenarnya Pati adalah “kota ketoprak”. Itulah yang harus dipahami dan diteguhkan. Hal itu bisa dilihat banyaknya ketoprak yang berada di Bumi Mina Tani. Kesenian tersebut harus dilestarikan sebagai “khazanah budaya” di Jawa Tengah.

Sebenarnya Pati adalah surganya ketoprak. Hal itulah yang mendorong para pemain/seniman dari luar daerah untuk datang ke Kota Bumi Mina Tani. Di mata Kabupaten lain khususnya di Jawa Tengah, Pati terkenal dengan sebutan “kota ketoprak”. Pasalnya, banyak ketoprak Pati sering pentas di Jawa Tengah, mulai dari Rembang, Groboban, Jepara, Kudus, Demak, Kota Semarang, dan sebagainya. Namun, seiring berjalannya roda globalisasi, banyak sekali pergeseran terjadi dan mengancam eksistensi ketoprak.

Pergeseran
Di sisi lain, dunia yang semakin modern menjadikan masyarakat Pati tak mengenal “khazanah budaya” di kotanya sendiri. Bahkan, tak jarang para pemuda justru wegah ketika diajak menjaga kekayaan budaya mereka. Para pemuda lebih akrab dengan gangnam style, sosok artis Jepang dan Barat daripada nama-nama ketoprak Pati.

Lebih ironis lagi, di Pati justru menjamur tempat karaoke, kafe, dan perjudian. Bayangkan saja, jika kita berjalan di sekitar perbatasan Pati dan Kudus banyak berdiri gagah tempat karoke. Hal tersebut semakin mengidentikkan Pati sebagai “kota karaoke”. Padahal, kekayaan budaya Kota Bumi Mina Tani sangat beraneka ragam dan lebih menarik daripada karaoke, salah satunya kesenian ketoprak dan tayub.

Atas menjamurnya tempat karaoke itu, citra Pati semakin buruk, bahkan dijuluki sebagai “Kota Seribu Karaoke”. Selain karaoke, di tempat itu juga banyak prostitusi dan perjudian terjadi. Citra positif yang selama ini dibangun semakin lama mengalami pergeseran. Pati yang dulu dikenal dengan “ketopraknya”, namun sekarang dikenal dengan “karaokenya”.

Yang jelas, pergeseran budaya dan kelalaian pemerintah “mengancam” eksistensi ketoprak. Kita patut bertanya, mengapa pemerintah Kabupaten Pati melegalkan tempat karaoke? Memang hal ini tak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja. Pasalnya, tempat karaoke dianggap dapat mendatangkan retribusi cukup, sehingga mengakibatkan usaha ini semakin menjamur. Maka dari itu, Pati seharusnya bersih dan steril dari tempat karaoke.

Kesenian Lokal
Sebenarnya, bukan hanya kekayaan alam saja yang dijaga dan dilindungi pemerintah, namun kesenian lokal seperti ketoprak harus dijaga dengan serius. Apalagi, jumlah ketoprak di Pati relatif banyak. Menurut data Dinas Pendidikan Pati pada 2007, sedikitnya terdapat 35 grup ketoprak di Pati.

Dari jumlah itu, 10 di antaranya berada dalam kriteria laris tanggapan. Mulai dari Siswo Budoyo (Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana), Cahyo Mudho (Bakaran Kulon, Juwana), Langen Marsudi Rini (Growong Kidul, Juwana), Wahyu Budoyo (Ngagel, Dukuhsekti). Selanjutnya, Bangun Budoyo (Desa Karang, Kecamatan Juwana), Ronggo Budoyo (Rangga, Jaken), Dwijo Gumelar (Sidomukti, Jaken), Kridho Carito (Sumberejo, Jaken), Konyik Pati (Tlogowungu), dan Manggala Budaya (Pelemgede, Pucakwangi).

Dalam sejarahnya, berdirinya grup-grup ketoprak di Pati cukup unik. Meskipun Pati adalah daerah pesisir yang jauh dari Keraton Solo dan Yogyakarta, namun dalam hal kesenian ketoprak, daerah ini boleh dibilang sangat membanggakan. Dengan demikian, ketoprak harus dilestarikan dan dijaga.

Pertama, seharusnya pemerintah melakukan regulasi jelas untuk megatur pendirian karaoke di Pati. Karena diakui atau tidak, hal ini memperburuk citra Pati yang awalnya terkenal dengan ketopraknya, namun sekarang terkenal karaokenya.

Kedua, selain kebijakan, pemerintah juga harus melestarikan ketoprak lewat berbagai acara khusus yang digelar di berbagai tempat. Hal itu dilakukan untuk “mengampanyekan” ketoprak sebagai salah satu kesenian yang harus dijaga. Pemerintah juga bisa melakukan “blusukan kesenian” lewat pagelaran ketoprak di desa-desa secara gratis dan dibiayai pemerintah setempat. Pasalnya, selama ini ketoprak bisa pentas di depan umum jika ada tanggapan dari masyarakat.

Ketiga, pemerintah juga perlu memberikan subsidi/bantuan kepada grup kesenian ketoprak. Mengapa? Karena selama ini kelangsungan hidup ketoprak ditopang dari masyarakat yang menanggap saat mempunyai hajat, bukan dari pemerintah. Kondisi kehidupan ketoprak bergantung pada para pelakunya sehingga mereka ditintut kesadarannya untuk terus berinovasi. Sebab, kalau hanya terpaku pada kondisi yang ada selama ini, suatu saat nanti ketoprak akan ditinggalkan penggemarnya.

Keempat, pemerintah perlu mengenalkan ketoprak lewat dunia pendidikan kepada generasi muda. Artinya, ketoprak sebagai salah satu seni lokal harus dijadikan salah satu materi pendidikan di sekolah. Hal itu bisa dimasukkan ke dalam materi “muatan lokal” atau mulok. Tujuannya agar pemuda di Pati mengetahui dan mencintai ketoprak, jika sudah cinta pasti mereka secara otomatis melestarikannya.

Yang jelas, pemerintah Pati, pegiat seni, budayawan, aktivis LSM/ormas, serta seluruh kalangan harus bersinergi melestarikan kesenian ketoprak. Tanpa hal itu, maka selamanya Pati akan dijuluki “kota karaoke”. Padahal, Pati adalah “kota ketoprak” yang terkenal di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. (*)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: