Oleh : Eni Falasifah

Mahasiswa Prodi PIAUD INISNU Temanggung

Anak usia dini adalah generasi tunas bangsa yang menjadi harapan untuk membangun masa depan dengan penemuan, kesempatan dan kontribusi pada bangsa. Anak usia dini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Dalam tahapan perkembangan yang disebutkan oleh Montessori, masa kehidupan yang paling penting adalah masa pertumbuhan pertama yaitu usia 0-6 tahun dimana anak intelegensinya sangat kuat. Pada masa inilah disebut dengan masa keemasan, karena pada masa ini anak sangat mudah menangkap apapun yang dilihatnya. Oleh karena itu sangat penting menanamkan karakter nasionalsime pada anak dari sejak dini, sebagai bekal untuk masa depan bangsa.

Kegiatan belajar dalam anak usia dini dilakukan dengan bermain, karena dunia anak adalah dunia bermain. Sebagai guru juga harus mempersiapkan kegiatannya seperti bahan kegiatan, penggunaan metode, pengelompokan anak didik dan media pembelajaran berupa sarana atau alat peraga yang digunakan. Pemakaian media dalam pembelajaran dapat meningkatkan semangat anak, dan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa serta dapat membantu proses penyampaian sehingga lebih asyik dan menarik. Untuk menumbuhkan semangat belajar anak, maka sebagai guru harus membuat kegiatan pembelajaran lebih menarik dan inovatif, sehingga mendorong siswa dapat belajar secara optimal baik dalam belajar didalam kelas maupun diluar kelas. Dengan media pembelajaran anak akan mudah menerima pengetahuan, pengalaman, mengembangkan cara berfikir anak secara kritis dan positif. Media pembelajaran memberikan pengetahuan yang konkrit dan tepat serta mudah dipahami oleh anak.

Dalam program pembelajaran anak usia dini ada dua bidang yang harus dikembangkan, yaitu bidang pembentukan perilaku dan bidang kemampuan dasar. Aspek perkembangan tersebut meliputi perkembangan nilai agama dan moral, penegembangan sosial emosional, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. Banyak metode bermain yang bisa digunakan untuk menyampaikan pengetahuan mengenai nilai-nilai nasionalisme, diantaranya yaitu bercerita tentang sejarah bangsa Indonesia melalui alat peraga, sehingga anak tidak merasa bosan mendengarkan ceritanya. Penanaman nilai cinta tanah air masih sangat kurang maksimal, hal ini terlihat masih banyak anak yang belum hafal lagu-lagu nasional, tidak mengenal pahlawan nasional, bahkan belum hafal sila-sila pancasila. Selain itu, sikap kurang sopan santun terhadap guru dan orang tua, berkelahi dengan temannya, sikap ketidakjujuran dan masih banyak yang lain.

Beberapa masalah yang timbul tersebut, maka perlu adanya penanaman nilai nasionalisme yang dimulai sejak usia dini agar anak selalu pandai memanajemen keanekaragaman etnnik, budaya dan solidaritas sebagai generasi muda bangsa Indonesia. Penanaman nilai nasionalisme sejak usia dini menjadi suatu hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan salah satu upaya preventif untuk menanggulangi permasalahan pada generasi muda yang terjadi di Indonesia saat ini. Pengenalan pengamalan sila-sila pancasila melalui media bermain mencari harta karun dapat memberikan pandangan berfikir dan bersikap oleh anak usia dini untuk mencerminkan jati diri bangsa Indonesia (Pancasila).

Media belajar dengan bermain mencari harta karun di desain sendiri dengan kegiatan memecahkan es batu, yang didalamnya sudah diisi gambar pada sila-sila pancasila, kemudian anak bermain mencari gambar tersebut dengan mengurutkan dari sila pertama. Dengan adanya media bermain mencari harta karun dari es batu ini, diharapkan anak lebih memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tiap sila pancasila.Kegiatan lain yang bisa digunakan untuk menanamkan nilai cinta tanah air yaitu upacara bendera, senam pagi, kerja bakti, perlombaan dan outbond. Kegiatan ini bisa melatih anak untuk dapat bekerjasama dengan teman, saling tolong-menolong dan menghargai sesama.

Pada saat kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari Senin, nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan upacara bendera diantaranya membiasakan siswa untuk bersikap tertib dan disiplin, membiasakan siswa berpenampilan rapi, meningkatkan kemampuan mempimpin, membuat siswa patuh pada aturan yang ada, dan menanamkan rasa tanggungjawab. Sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan rutin yang dilakukan di sekolah diharapkan bisa mempertebal semangat kebangsaan, cinta tanah air, patriotisme, semangat dan nilai-nilai kepahlawanan, idealisme serta membangkitkan peran siswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

UU No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab. Tujuan tersebut merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Rumusan tujuan pendidikan nasional inilah yang menjadi landasan pengembangan karakter bangsa. Dimana, pendidikan karakter bersifat terus menerus dan berkelanjutan (continuous) dimulai dari pendidikan usia dini agar terinternalisasi dengan baik dalam diri anak didik.

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: