TRENDING NOW

Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim

Semarang, Koranpati.com - Dalam kegiatan Sosialisasi Program NU Care LAZIZNU Jawa Tengah, Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim mengatakan tiga hal pokok untuk menyambut Satu Abad NU pada Ahad (15/09/2019) di kantor PWNU Jawa Tengah, Jalan Dokter Cipto Nomor 180, Karangtempel, Kota Semarang.

Ada tiga hal yang perlu ditekankan untuk menyongsong satu abad Nahdlatul Ulama (NU). Pertama adalah ideologisasi. Perlu penguatan ideologi Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah di semua lini, di semua sektor dan di semua tingkatkan. Perlu menanamkan kebanggaan kepada NU.

“Jangan sampai ikut organisasi para ulama, kiai, yang didirikan Hadratussyaikh Hasyim Asyari tidak merasa senang, kok malah merasa terbebani mengurus NU. Maka ideologisasi ini menjadi sangat penting,” tegas Gus Huda.

Kedua, penguatan kelembagaan. “Semangat ideologisasi ini harus disalurkan melalui proram-program dan kegiatan-kegiatan dalam bingkai kelembagaan. Sehingga program-program itu tercapai secara optimal dan berkelanjutan,” katanya.

Beberapa waktu ini, lanjutnya, saya keliling di beberapa pasar, di beberapa kecamatan utamanya di Pasar Mranggen, karena saya dari Mranggen. “Saya menemukan, ada beberapa orang, penjual sayur yang statusnya dia warga NU, masih berhutang pada rentenir, seratus ribu untuk beli sayur pagi hari, nanti untuk jualan, nanti siangnya sudah ditagih lagi. Ini masih terjadi di masyarakat kita. Kalau tidak percaya, silakan survei di pasar-pasar desa maupun pasar-pasar kecamatan,” tegasnya.

Maka pihaknya berharap, pengurus MWC NU di masing-masing daerah untuk dapat memanfaatkan iuran secara sederhana untuk menuntaskan problem tersebut. Jika satu MWC NU ada anggota 25 ribu orang dan iuran Rp 10 ribu saja, maka sudah ada Rp 25 juta. “Jika saat ini ada orang kecil tidak dapat makan karena tidak punya uang, itu dosanya siapa? Jika ada anak kecil tidak bisa sekolah, siapa yang berdosa?” tegasnya.

Ketika ada orang pindah ideologi karena uang, katanya, ini dosa siapa?

Mengapa ini tidak dapat teratasi, katanya, karena kita tidak dapat berorganisasi dengan baik, dan ini adalah kelemahan kelembagaan. “Jangan artikan ketika Rasulullah SAW bersabda; ‘Tidaklah sempurna iman seorang mukmin, ketika ia malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya dalam keadaan.’ Ini jangan diartikan secara tekstual, dan tetangga kita yang kelaparan harus dituntaskan secara kelembagaan,” katanya.

Artinya, dalam kelembagaan itu dapat menjamin kondisi ekonomi masyarakat maupun anak yang putus sekolah. "Kelembagaan itu penting untuk menjamin masalah itu dan menjamin secara berkelanjutan," jelasnya.

Di dalam kelembagaan, lanjutnya, ada manajemen, ada rencana, ada pembukuan. “NU akan ada sampai kiamat, sedangkan umur kita tidak panjang. Maka kita harus melahirkan sistem di NU yang baik, melahirkan sistem kelembagaan yang bagus, nanti siapapun yang meneruskan akan baik dan akan menjadi amal jariyah kita semuanya,” tegasnya.

Pihaknya berpesan, bahwa apapun tugas di NU khususnya di LAZIZNU bukanlah beban. “Ini adalah kenikmatan dari Allah, karena jenengan semua diberi kesempatan oleh Allah untuk khidmah dengan umatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan suatu kehormatan, kenikmatan, karena dapat memberi manfaat bagi manusia lain, khoirunnas anfauhum linnas, tapi itu semua harus dijawab dengan kelembagaan, sistem, dan manajemen bagus,” katanya.

Ketiga, kita perlu melakukan sinergitas. “Baik itu internal NU, di luar NU, sinergitas menjadi penting. Sinergitas menjadi penting, sehingga antara Cabang, MWC, Ranting ketika dapat bersinergi, akan menjadi kekuatan besar,” bebernya.

Hal itu menurut Gus Huda sesuai perintah Nabi Muhammad, bahwa kekuatan Allah akan diberikan selama manusia masih mau berjamaah. “Maka ini kami terjemahkan ke dalam sinergitas, kerjasama, baik internal, maupun eksternal, lintas lembaga, baik antara PBNU, PCNU, MWCNU, Ranting, Anak Ranting, dan semua lembaga NU harus bersinergi,” tegasnya.

Saya yakin, lanjutnya, dengan tiga strategi ini, insyaallah kita akan masuk Satu Abad NU dengan memberikan kemanfaatan, memberikan pelayanan kepada warga NU, umatnya Nabi Muhammad SAW.

“Intinya, tiga hal itu mulai dari penguatan ideologisasi, penguatan kelembagaan, sinergitas atau persatuan dan kerjasama,” tutupnya. (kp44/HI)
Koranpati.com – Mariza Ilfani utusan dari SDN 02 Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat berhasil meraih Pemenang Favorit pada Lomba Bercerita bagi Siswa dan Siswi SD/MI Tingkat Nasional 2019 yang dilakukan dari tanggal 3 – 5 September 2019 di Ballroom Hotel Orchadz Industri – Jakarta. 

Lomba yang digelar oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini diikuti oleh utusan dari 34 Provinsi se-Indonesia. Para utusan ini sebelumnya telah melalui tahap seleksi secara berjenjang di seluruh Indonesia, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Penampilan para peserta dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari praktisi dan ahli, yaitu Dra.Subekti Makdriani, Dra.Indri Savitri, M.Si, Sekar, S.Si, Muhammad Awam Prakoso, dan Kunduri, S.Pd.

Sumatera Barat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya tidak absen mengirimkan utusannya dalam ajang lomba bergengsi ini. Tahun 2019 ini, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat mengutus Mariza Ilfani (12 th) siswa SDN 02 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat untuk mengikuti Grand Final Lomba Bercerita bagi Siswa dan Siswi SD/MI Tingkat Nasional. Mariza Ilfani terpilih setelah melalui rangkaian seleksi ketat pada ajang lomba yang diselenggarakan sebelumnya oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, yang menyeleksi utusan 18 Kabupaten dan kota se Sumatera Barat. 

"Keberhasilan Mariza Ilfani adalah hasil kerja bersama kita dalam gerakan literasi di Sumatera Barat. Terakhir kali Sumatera Barat memperoleh pemenang Harapan satu pada tahun 2013 yang lalu dan setelah itu belum mampu lagi untuk menorehkan prestasi masuk ke dalam 12 besar pemenang lomba bercerita yang diselenggarakan Perpusnas RI ini. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat berkomitmen untuk menggalakkan giat gerakan literasi menyeluruh, terutama yang paling penting bagaimana supaya minat membaca dikalangan generasi muda kita semakin meningkat, sesuai dengan target program yang dicanangkan oleh Pemerintah melalui Perpustakaan Nasional. Salah satunya dengan menggali cerita berbasis kearifan lokal di Sumatera Barat untuk kemudian dihimpun dan diterbitkan sebanyak-banyaknya," kata Wardarusmen, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, saat kami wawancarai seusai acara.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman Barat, Sutriarti, SE. yang ikut mendampingi Mariza Ilfani selama di Jakarta tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Beliau berharap agar dengan prestasi ini, dapat pula menjadi motivasi untuk seluruh generasi muda penerus bangsa putra-putri Pasaman Barat dalam meningkatkan minat baca sejak dini kedepannya. 

“Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat sudah melaksanakan banyak kegiatan serta kerjasama langsung dengan berbagai pihak baik guru-guru maupun relawan penggerak literasi di Pasaman Barat untuk meningkatkan minat baca sejak dini ini,” kata Sutriarti. 

Rosmida, S.Pd, M.Si Kepala SDN 02 Ranah Batahan yang juga turut mendampingi Mariza Ilfani mengatakan, “ Saya sangat bersyukur  dengan adanya kegiatan  ini, apalagi terintegrasi dengan KURTILAS. Terimakasih juga kepada kawan-kawan pegiat literasi serta perpustakaan daerah yang menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan menumbuh kembangkan minat baca di kalangan anak-anak kita.”

“Harapan saya semoga kita pihak sekolah dan Dinas Pendidikan dan kebudayaan dapat sejalan dengan program kawan-kawan pegiat literasi di Pasaman Barat serta tentunya dengan pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, sama sama bekerja sama dalam mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya generasi muda kita. Agar kita dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan unggul. Kegiatan membaca akan lebih ditingkatkan dan fokus melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, memanfaatkan perpustakaan sekolah dan memberdayakan kawan-kawan pegiat literasi sebagai tenaga pendamping,” kata Rosmida.

Kedua orangtua Mariza Ilfani terkhusus menyampaikan ucapan syukur dan berterimakasih kepada semua orang yang telah ikut menyokong Mariza ilfani bisa ikut lomba bercerita hingga ke tingkat Nasional dan masuk 12 besar sebagai salah satu Pemenang Favorit,  baik instansi terkait Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat, Kepala Sekolah dan guru pendamping dari SDN 02 Ranah Batahan, Denni Meilizon Ketua Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat sebagai pelatih serta masyarakat Sumatera Barat yang telah ikut mengirimkan doa untuk keberhasilan Mariza.

Adapun urutan pemenang Lomba Bercerita bagi Siswa dan Siswi SD/MI Tingkat Nasional 2019 sebagai berikut; Pemenang 1 diraih oleh Sinna Resyadia dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Pemenang 2 diraih oleh Abdul Aisy Abrisyam dari Provinsi Jawa Timur, Pemenang 3  Dhafin Favian Ashodiq dari Provinsi DI Yogyakarta, Pemenang Harapan satu diraih Denis Andrean dari Provinsi Sumatera Selatan, Pemenang Harapan kedua Faisal Febian Khairi dari Provinsi Jawa Barat, Pemenang Harapan ketiga Talita Nasiwa dari Provinsi Kalimantan Barat dan Enam Pemenang Favorit yaitu: Mariza Ilfani dari Provinsi Sumatera Barat, Muhammad Zaki Firmansyah dari Provinsi Sumatera Utara, Putu Sri Pratiwi dari Provinsi Bali, Muhammad Taifur Isa dari Provinsi Kalimantan Selatan, Salsa Imelda dari Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Rendi Aditia dari Provinsi Jawa Tengah. 

Penyerahan hadiah dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Dra. Woro Titi Haryati, MA mewakili Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masing-masing pemenang menerima piala, piagam dan uang pembinaan.

Selain mengikuti rangkaian lomba, para peserta juga diberikan pembekalan khusus oleh praktisi dan ahli. Kemudian beserta pendamping, oleh pihak pantia diberikan tur kunjungan wisata baca ke Perpustakaan Nasional serta diundang untuk menghadiri acara puncak Gemilang Perpustakaan Nasional 2019 pada Kamis (5/9) malam. di Ballroom Djakarta Theater. (Kp44/ Muhammad Fadhli).
El Syarif, Penyanyi Religi Indonesia. (Dok. Istimewa)
Koranpati.com - Ibu adalah sosok yang mengenalkan ketulusan cinta pada setiap manusia. Ketika ibu telah tiada, akan hadir rasa kehilangan yang begitu besar, yang menerbitkan rindu ingin bertemu. Berlatar pengalaman yang menyentuh humanisme ini, El Syarif, penyanyi asal Kota Cirebon - Jawa Barat, merilis lagu terbarunya yang berjudul 'Rindu Ibu' pada hari Jumat 30 Agustus 2019.
“Lagu Rindu Ibu saya tulis pada tanggal 21 Juni 2019, terinspirasi dari banyaknya saudara, kerabat, dan sahabat yang sulit melupakan kesedihan atas kehilangan ibu mereka, dan rindu dengan kehadirannya. Pada lagu ini saya ingin menyampaikan pesan untuk kita yang masih diberi nikmat memiliki ibu, mari sama-sama kita jaga selalu, dan rawat dengan sebaik mungkin, serta berikan yang terbaik untuk ibu,” kata El Syarif, saat diwawancarai, Jumat (30/8/2019).
El Syarif juga mengatakan, “Ibu adalah seseorang yang paling mencintai kita di dunia ini. Sebesar apapun pengorbanan yang kita lakukan untuk ibu, itu tidak ada bandingannya dengan pengorbanan yang telah diberikan seorang ibu kepada anaknya. Ibu adalah tempat bersandar di saat kita sedang terpuruk dalam menjalani hidup ini. Ibu adalah guru terbaik untuk kehidupan kita.”
“Pada proses pembuatan lagu Rindu Ibu ini dibantu oleh banyak pihak. Mas Aris Item yang berusaha membuat aransemen lagu ini supaya memiliki nyawa dan ruh. Beliau pemilik studio musik Paviliun Cirebon, tempat lagu ini diproduksi. Untuk keyboardis, dibantu oleh Arul,” kata El Syarif, penyanyi kelahiran Cirebon 12 April 1990.
Lebih lanjut El Syarif mengatakan, “Kendala yang dihadapi dalam menulis lagu Rindu Ibu terletak pada saat membuat komposisi nada yang pas dengan lirik dan isi lagu tersebut, agar benar-benar menyentuh hati. Berbagai nada sudah dicoba. Dan akhirnya saya memilih nada ini. Semoga mampu membuat para pendengarnya luluh, larut dalam suasana kesedihan, dan mengobati rasa kerinduan yang sangat mendalam kepada ibu.”
“Dari kecil saya senang kepada dua hal. Yaitu azan dan selawat. Tak pernah terfikir sebelumnya saat ini saya bisa menyanyi dan membuat lagu. Awal saya mulai suka bernyanyi saat kuliah semester ke empat di Ikopin, salah satu perguruan tinggi yang ada di Jatinangor - Sumedang. Untuk bisa kuliah saya berusaha mencari biaya sendiri. Sadar dengan kondisi perekonomian orangtua, saya melakukan aktivitas apapun, dari mulai jualan pulsa, jualan gorengan, mengajar, jualan figura photo, jualan donat, bantu-bantu konsultan, dan sebagainya. Saya juga penah jadi pengamen pada saat kuliah semester 4. Saya mengamen di kawasan kampus UNPAD bersama teman-teman dari Cirebon. Keadaan yang membuat saya harus tangguh dan berjuang. Padahal, kala itu saya tidak begitu banyak hafal dengan lagu. Cukup lama saya jadi pengamen, walaupun tidak tiap hari. Berawal dari situlah saya mulai kenal musik dan bisa menulis lagu,” kata El Syarif, yang saat ini aktif menyanyi di acara pernikahan dan juga MC, juga mengajar dan berdagang.
Selain itu, El Syarif juga mengatakan, “Alhamdulillah, selain lagu Rindu Ibu saya juga telah merilis beberapa lagu sebelumnya, seperti; Sebuah Penantian Cinta, Syukur Cinta, Bahagia Bersamamu, Cinta Tulus Ikhlas, Innallaha Ma'anaa, Aku Tak Sempurna, Ya Rasulallah. Juga ada lagu ‘Cinta Sewajarnya’, lagu Sugiri Ja’far yang saya cover. Tujuan saya menekuni dunia musik, sederhana saja, selain untuk mensyiarkan dakwah Islam melalui syair-syair dan lagu, saya juga ingin menulis lagu dengan sajian musik yang indah, berharmoni, penuh cinta, bermakna, dan bermanfaat.”(KP44/ Muhammad Fadhli)