TRENDING NOW

Banyumas, Koranpati.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Se Eks Karesidenan Banyumas menggelar Konsolidasi Organisasi dan Program pada Rabu (8/7/2020).

Konsolidasi itu fokus dilakukan oleh PWNU Jateng Bidang Pesantren dan Pertanian. Acara dimulai dari pukul 19.00 WIB dan ditutup pukul 23.30 WIB dengan doa yang dipimpin oleh Rois Syuriyah PCNU Clacap Kiai Suada' Adzkiya yang kemudian dilanjut dengan mushofahah.

Dalam kegiatan itu, hadir Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng KH. Muhamad Muzamil, Wakil Ketua PWNU Jateng Dr KH Mahsun Mahfudz, dan sejumlah pengurus lainnya. Hadir semua Rois Syuriah, Ketua dan Pengurus RMI dan LPPNU se Eks Karesidenan Banyumas turut menghadiri kegiatan tersebut.

Dijelaskan Sekretaris PWNU Jateng KH. Hudallah Ridwan Naim (Gus Huda), bahwa pengurus cabang mengucapkan terimakasih kepada PWNU. "Mereka sangat senang dan optimis dgn model konsulidasi per Eks Karesidenan dan tematik seperti ini, karena di samping pembahasanya terarah dan bisa banyak cukup waktu bagi cabang-csbsnf untuk mengutarakan aspirasinya," kata Gus Huda.

Dipaparkan Gus Huda, bahwa tema atau fokus kegiatan itu memberikan perhatian kepada konsolidasi organisasi dan program Pesantren dan pertanian RMI dan LPPNU) sangat pas. "Mengingat mayoritas warga nahdliyyin adalah petani, oleh karena itu posisi NU sangat penting dan strategis dalam hal ketahanan pangan," lanjut beliau.

Selain itu, kegiatan tersebut juga memperkuat RMI atau pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin sangat penting dan darurat, karena posisi pesantren sebagai soko bagi NU. "Di samping itu pesantren juga sangat juga sangat penting dalam membentengi faham-faham transnasional yang akan melemahkan keutuhan bangsa dan negara. InsyaAllah, pesantren unggul, NU hebat, dan NKRI kuat," lanjutnya.

Konsolidasi organisasi ini, lanjutnya, akan memperkuat tata kelola organisasi, sehingga NU akan lebih efektif dalam merealisasikan visi dan misinya, secara terarah dan terukur.

Pada intinya, menurut Gus Huda, kemandirian NU harus ditopang oleh empat pilar. "Pertama kuat ideologi. Kedua, kuat ilmu pengetahuan. Ketiga, kuat ekonomi. Keempat, sehat organisasi atau jam'iyyah," tegas beliau. (kp33/hi).
Dosen Universitas Peradaban Cintya Nurika Irma
Purworejo, Koranpati.com - Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulam (STAINU) Purworejo melalui LP3M menggelar webinar bertajuk "Menguatkan Literasi di Tengah Pandemi" yang menghadirkan dua pemateri. Pertama, dosen Universitas Peradaban Cintya Nurika Irma. Kedua, dosen dan Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda.

Ketua STAINU Purworejo Mahmud Nasir, S.Fil.I., M.Hum., mendukung penuh kegiatan tersebut karena agenda rutin dari kegiatan diskusi dosen. "Ini adalah bentuk MoA dengan STAINU Temanggung karena beberapa tahun lalu sudah melakukan MoU dengan STAINU Temanggung. Kita melakukan tindaklanjut riil atas kerjasama tersebut, salah satunya melalui kegiatan ini," kata dia pada Selasa (7/7/2020).

Sementara itu, Ketua LP3M STAINU Purworejo Saifudin Zuhri, Lc., M.A., menambahkan, bahwa kegiatan itu merupakan salah hal untuk meningkatkan kualitas literasi di kalangan dosen dan mahasiswa.

Dalam penyampaian materinya, Cintya Nurika Irma, menjelaskan tentang strategi mengintensifkan penulisan skripsi. "Di tengah pandemi, waktunya banyak di rumah, namun mengapa penulisan skripsi kok tidak maksimal ya. Maka, harus ada komunikasi antara mahasiswa yang dibimbing dengan pembimbing," katanya.

Selain itu, saat ini, menurut dia, banyak tersedia litetatur yang online. Hal itu juga memudahkan dalam menyelesaikan penulisan skripsi. "Pembimbing dan mahasiswa, harus punya komitmen bahwa saat ini saya adalah periset yang harus menunjukkan novelty," beber dia.

Perlu juga, menurut dia, tukar menukar literatur atau buku antara pembimbing dan mahasiswa. "Karena harus diingat, pembimbing dan mahasiswa itu tim," lanjut dia.

Pihaknya juga menjelaskan, banyak hal tentang karya tulis ilmiah, metode penelitian, teknik sitasi, dan lainnya.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda menjelaskan materi bertajuk “Mengubah Skripsi Menjadi Artikel Ilmiah di Jurnal Ilmiah”. Menurut reviewer JRTIE IAIN Pontianak tersebut, karya tulis ilmiah merupakan tulisan akademis (academic writing), ditulis kalangan akademisi perguruan tinggi/lembaga pendidikan, dosen, mahasiswa, guru, pelajar, peneliti, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berupa penjelasan (explanation), prediksi (prediction), dan pengawasan (control).

"Tidak hanya skripsi yang bisa meenjadi artikel ilmiah, namun juga tesis, disertasi, riset, atau tugas akhir untuk mahasiswa D3. Luarannya berupa menjadi artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, prosiding seminar, buku, dan lainnya," beber Koordinator Gerakan Literasi Ma'arif itu.

Adapun langkah teknis mengubah skripsi jadi artikel ilmiah dapat dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, memilih jurnal ilmiah tujuan (author guidelines, focus and scope, dan lainnya). Kedua, download template.

Ketiga, kolaborasi dengan pembimbing. Keempat, mengubah skripsi sesuai pedoman penulisan di template jurnal ilmiah yang akan dituju untuk disubmit. Kelima, register, login, submit. Kelima, review, peer review, publish.

Untuk anatomi artikel ilmiah, ia menjelaskan secara umum ada IMRAD, yaitu introduction atau pendahuluan, method atau metode, result and discussion yaitu hasil dan pembahan. “Kalau dirangkai dalam artikel ilmiah, ya secara umum mulai dari judul, abstrak, introduction, method, result and discussion, simpulan, daftar pustaka,” beber penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Sedangkan aspek lain, kata Ibda, pahami gaya selingkung / author guidelines, instal aplikasi manajemen referensi (Mendeley, Zotero), instal aplikasi / kunjungi laman cek plagiasi, lalu submit, review dan publish.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan tanya jawab dari peserta yang dihadiri secara online dari STAINU Purworejo, STAINU Temanggung, dan Universitas Peradaban yang berlangsung selama tiga jam lebih tersebut. (kp44/WEW).
SEMARANG, Koranpati.com - Kol Inf ( TNI ) Amin Taufiq , S.Sos  mantan ketua Pimpinan  Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul  Ulama (IPNU ) Kecamatan Mranggen Demak Jawa Tengah periode 1989-1990   dilantik sebagai Asisten Logistik (Aslog) Kasdam IV/Diponegoro.

Pelantikan pria kelahiran Demak 1971 yang menyelesaikan pendidikan dasar hingga lanjutan atas di pondok pesantren Futuhiyyah  Mranggen Demak ini  ditandai dengan serah terima jabatan  (Sertijab)  yang dilaksanakan di Makodam IV/Diponegoro, pada hari Rabu ( 1/7)

" Ya, kali ini saya akan diamanti untuk mengemban tugas sebagai Aslog Kasdam IV/Diponegoro . Prinsip dimana saja dan tugas apa saja dari negara dan rakyat Indonesia selalu siap kami jalankan," kata Amin usai  Sertijab yang dipimpin Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Bakti Agus Fadjari SIP, MSi

Menurutnya, sebelum masuk ke Kodam IV/Diponegoro sejumlah penugasan sebagai TNI telah dilalui. Diantaranya Danton Yonif 642/KPS , adalah  jabatan pertama setelah lulus dari Akademi Militer Magelang (1994)

Kemudian, lanjutnya, seiring berjalannya waktu  alih tugas dan lokasi penugasanpun silih bergant dijalani  hingga akhirnya pimpinan TNI mengamanati untuk menjadi komandan  Kodim  1011/ KLK di kabupaten Kapuas Kalteng ( 2012), Waaslog Kasdam XII/Tanjungpura(2015) ,  Kabid Walumi ( Kepala Bidang kemahasiswaan dan alumni Poltekad Kodiklatad di Malang Jawa Timur  (2018) dan tetakhir sebagai Aslog Kasdam IV/Diponegoro.

Sebelum masuk kampus pendidikan taruna TNI di bukit Tidar Magelang, putra pasangan KH Nasucha Machalie ( sekretaris PWNU Jateng 1990)  - Siti Haniah ini  menyelesaikan pendidikan di Madrasah Diniyah , MI , SMP dan SMA Futuhiyyah Mranggen Demak. Selama bersekolah sangat aktif di berbagai kegiatan, intra maupun ekstra sekolah.

Pramuka dan IPNU menjadi pilihan utama hingga mengantarkannya menjadi ketua IPNU Ancab Kecamatan Mranggen ( 1989-1990) . Saat itu tercatat sebagai ketua IPNU termuda di  kabupaten Demak. Ketua-ketua IPNU Ancab / Kecamatan yang lain rata-rata mahasiswa senior, sedangkan Amin saat itu masih duduk di bangku SMA

"Dua lembaga ini menggojlok dan menggembleng  diri saya untuk menjadi orang yang tidak mudah putus asa dan menyerah saat menghadapi kesulitan,amanat menjadi ketua IPNU tidak bisa saya selesaikan sampai akhir, karena harus melanjutkan belajar  di Akmil," ujarnya mengenang masa lalunya

Abdul Wahab Zaenuri , kakak kelas Amin saat menjalani studi di SMP Futuhiyyah ( kini dosen UIN Walisongo Semarang)  mengatakan tanda-tanda  bakat dan watak diri  sebagai orang pergerakan dan aktifis sudah kelihatan   pada diri Amin sejak sekolah di SMP

" Baik saat di dalam kelas maupun kegiatan apa saja di luar sekolah ,ia  nyaris selalu menjadi pimpinannya , karena dipilih kawan-kawannya, ia orang lapangan, tepat kalau kemudian berkarier di TNI," pungkasnya. (Kp88/sh).